Fisioterapi Pada Bells Palsy

Defenisi

Menurut Mumenthales (2006) Bell palsy merupakan suatu kelainan pada n. fascialis yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan pada otot di suatu wajah.

Suatu keadaan ketidak simetrisan wajah dikarenakan penurunan fungsi n. facialis yang mengakibatkan ketidak seimbangan kekuatan pada kedua.

Epidemologi

Angka kejadian penderita bell palsy, menurut studi kasus yang dilakukan para peneliti, 20 per 100.000 penduduk pertahun. Bell palsy mempengaruhi sekitar 40.000 orang di Amerika Serikat setiap tahunnya.

Menurut studi kasus yang dilakukan Grewal D.S, 2016 menyatakan bahwa sekitar 1,5% terjadi bell palsy pada usia antar 15 dan 60 yang terjadi pada wanita maupun pria.

Hasil Anamnesis
Pasien laki-laki berusia 41 tahun merasakan kelemahan pada sisi wajah sebelah kiri yang disertai dengan adanya rasa nyeri pada bagian belakang telinga.Saat ini pasien mengalami kesulitan dalam menutup mata kiri dan merasa wajahnya mencong ke arah kanan.Hal tersebut dirasakan sudah 2 hari yang lalu.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
Blood Preasue : Normal
Heart Rate : Normal
Respiratory Rate : Normal
Inspeksi
Tampak kelemahan pada wajah
Wajah tidak simetris
Ekspresi wajah tidak sama
Palpasi
Nyeri tekan pada bagian belakang telinga
Suhu normal
Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
Aktif dan Pasif : adanya kelemahan
Tes isometric melawan tahanan : adanya kelemahan
Pemeriksaan Penunjang : –
Penegakan Diagnosis
Activity Limitation : – Sulit mengelurkan air mata sisi kiri
Sulit memejamkan mata sisi kiri
Body Structure &Function : – Kelemahan otot satu sisi wajah
– Penurunan fungsi n. fascialis
Participation Restriction : – Mengganggu aktivitas berkomunikasi
Diagnosis Fisioterapi : Belum bisa memejamkan mata dan mengeluarkan air mata sisi kiri karena adanya kelemahan otot dan penurunan fungsi n. fascialis pada satu sisi wajah kiri sehingga mengganggu aktivitas berkomunikasi.
Rencana Penatalaksanaan
Tujuan : Memperbaiki fungsi nervus fascialis
Prinsip Terapi : – Penguatan otot fascial
Peningkatan fungsi n. fascialis
Edukasi : Mengajarkan caramenutup mata dan mengontrol air liur yang keluar dari mulut.
Kriteria Rujukan : Dokter spesialis
Prognosis
Perjalanan alamiah Bell’s palsy bervariasi dari perbaikan komplit dini sampai cedera sarafsubstansial dengan sekuele permanen. Sekitar 80-90% pasien dengan Bell’s palsy sembuhtotal dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10% mengalami asimetri muskulus fasialis persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren. Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalah palsi komplit (risiko sekuele berat), riwayat rekurensi, diabetes, adanya nyeri hebat post-aurikular, gangguan pengecapan, refleks stapedius, wanita hamil dengan Bell’s palsy. Selain menggunakan pemeriksaan neurofisiologi untuk menentukan prognosis,House-Brackmann Facial Nerve Grading System dapat digunakan untuk mengukurkeparahan dari suatu serangan dan menentukan prognosis pasien Bell’s palsy (Handoko Lowis, 2012).

Sarana dan Prasarana
Sarana : Bed, Faradic (dapat di beli di toko Alat-fisioterapi.com)
Prasarana : Ruangan Terapi
Referensi

Dickson, Gretchen (2014). Primary Care ENT.An Issue of Primary Care: Clinics in Office Practice
https://en.wikipedia.org/wiki/Bell%27s_palsy
Grewal D. S (2014).Atlas of Surgery the Facial Nerve: An Otolaryngologist’s Perspective
Tiemstra, JD; Khatkhate., N (2007).“Bell’s palsy: diagnosis and management”. American family physician.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*